Alasan Gue Pulang Dari Pondok


Akhirnya gue lega karena bisa pulang dari pondok, karena sebelumnya sulit banged mendapat izin dari para ustad untuk pulang. Setelah minta izin beberapa kali akhirnya gue dapat menghirup udara bebas, haha.. Kayak di penjara aja..🙂 Sulit banged memang untuk keluar dari pondok apalagi kalau yang keluar santri yang tawajuh kayak gue, hehe..

Gue sebenarnya betah di pondok, tapi karena niat gue sebenarnya masuk pondok hanyalah untuk belajar membaca Al-quran dan gue sudah bisa membacanya jadi gue putusin untuk pulang alias berhenti mondok. Berat sih sebenarnya ninggalin temen-temen gue di pondok, apalagi si Sukri dan si Dayat mereka berdua itu ibarat malaikat yang membimbing gue sehingga gue mampu bertahan sampai sekarang ini di pondok, mereka usianya lebih mudah dari gue tapi kalau soal agama gue masih kala telak sama mereka.

image

Temen-temen santri lagi ngumpul di mesjid

Gue keluar dari pondok bukan cuma karena gue sudah bisa membaca Al-quran, tetapi juga karena berbagai penyakit  yang menyerang seluruh tubuh gue diantaranya yang paling parah adalah penyakit gatal-gatal scabies yang hampir menyerang semua bagian kaki gue. Bahkan untuk berjalan pun sangad sulit, setiap saat menggaruk-garuk badan, dan lebih parahnya lagi nananya yang berbau busuk. Pada saat mandi kaki gue terasa sakit semua karena gatal-gatal gue terkena air, saat sholat pun gue merasa sangat sulit.

Selain penyakit scabies saat di pondok gue juga terkena penyakit mata menular, yaitu dengan gejala mata menjadi sangat merah, di dalam mata seperti ada pasir, dan keluar belek terus-menerus.. Penyakit mata ini membuat gue sangad menderita karena untuk ruku dan sujud di waktu sholat bola mata gue rasanya seperti mau jatuh ke-lantai..

Gue juga sering kelaparan waktu di pondok, hal itu disebablan karena gue hanya makan 2 kali dalam sehari pagi jam 10 dan sore jam 5. Itupun dengan lauk yang sangad-sangad tidak enak, minum pun harus minum air mentah. Biasanya lauk yang paling sering gue makan adalah kol dan terong, yang rasa lauknya tuh seperti cuma direbus doank, alias tidak ada rasa enaknya sama sekali.

Selain itu santri-santri di pondok itu hampir semuanya nakal-nakal, ada yang suka nyuri, ngerokok dan lebih parahnya lagi ada yang mabuk-mabukan, banyak juga yang sering onani. Hari pertama gue masuk pondok aja sendal gue langsung ilang, jangankan sendal Al-quran aja nyolong.. Apa kata dunia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s