Belajar Baca Quran Hanya 1 Bulan


Alasan utama gue untuk masuk pondok pesantren adalah karena gue gak bisa baca Al-Quran, karena hal itulah gue maksain diri gue untuk nekad masuk pondok, walaupun gue tau hidup di pondok itu gak ada enaknya sama sekali. Memang dari dulu gue gak bisa yang namanya baca Quran, itu karena dulu waktu kecil gue gak pernah mau belajar. Orang tua gue dan temen-temen gue padahal sudah menyuruh gue berulang-ulang kali untuk ngaji di mesjid, namun karena gue waktu kecil mempunya sifat pemalu, penakut, dan cengeng jadi semua ajakan itu hanya sia-sia.

image

Karena gak bisa ngaji itulah kehidupan gue waktu kecil sedikit terisolir, gue sering diejek dengan sebutan kafir oleh temen-temen gue. Bahkan pada saat melihat temen-temen pergi ngaji, langsung timbul rasa minder dan malu yang sangad besar di hati gue. Bukan cuma itu, saat nonton TV ada acara ngaji pasti gue langsung mengganti chanel tv tersebut. Hal tersebut terus berlanjut sampai gue besar.

Karena gak mau terus-turusan seperti itu, gue mutusin untuk belajar membaca Al-Quran. Walaupun gue udah gede kayak gini, gue gak akan malu untuk belajar. lebih baik terlambat kan daripada tidak sama sekali? Kerena tekad yang sangat kuat itulah akhirnya gue benar-benar mutusin untuk lekas-lekas mendaftar di pondok pesantren. Gue yakin dalam diri gue bahwa gue pasti bisa membaca Al-Quran dalam waktu singkat dan tanpa berlama-lama di pondok.

Saat masuk pondok gue merasa sangad iri dengan anak-anak yang usianya jauh dibawa gue namun sudah ada yang hafal Al-Quran 3-5 juz, sedangkan gue membaca Quran pun gak bisa.. Karena ketertinggalan itulah gue mencoba untuk memotivasi diri agar gue bisa membaca Al-quran.

Setelah beberapa hari di pondok gue sudah mulai akrab dengan beberapa santri di sana, dan yang paling dekat adalah Sukri dan Dayat. Mereka berdua inilah yang membantu gue untuk belajar membaca Al-quran dari nol, alias gak bisa sama sekali. Pada malam hari setelah sholat Isya gue duduk bareng sama sih Sukri, dan pada saat itulah pertama kali gue memulai belajar membaca Al-Quran mulai dari Iqro 1. “A ba tsa” huruf sederhana itu pun terasa sangat sulit ku ucapkan, dengan terbata-bata gue terus belajar dan belajar..

Hari-hari di pondok kulewati dengan memegang buku Iqro baik siang-malam, pokoknya disetiap saat gue mempelajari buku Iqro. Sambil bertanya-tanya kepada santri lainya apa yang gue gak tau. Pada saat pertama kali setor bacaan ke Ustad rasa minder gue pun muncul lagi karena gue masih harus terbata-bata membaca Iqro. Jujur pada saat itu hati gue bergetar, dan menyesal mengapa gak sejak kecil gue belajar ngaji?

Satu minggu berlalu gue sudah menguasai Iqro 3, dan secara istiqomah tanpa henti buka buku Iqro, dan pada akhirnya tepat satu bulan gue sudah di Iqro 6. Itulah hari dimana gue bisa membaca Al-quran, walaupun belum lancar benar, tapi gue sudah sangad bangga dan bersyukur karena sudah bisa membaca Al-quran. Setelah itu gue mutisin untuk bertahan 1 bulan lagi di pondok untuk memperbaiki bacaan dan tajwid, jadi gue di pondok hanya 2 bulan dan iti sudah cukup sebelum gue memutuskan untuk pulang..  Jadi intinya jika kita bersungguh-sunguh maka kita akan mendapatnya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s